Pengobatan Dan Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an terdapat rujukan tentang pengobatan yaitu pada QS 16:69, yang menyebutkan bahwa minuman (syarab) yang dihasilkan oleh lebah yaitu madu, “menyembuhkan”(shifa) bagi manusia. Kata shifa, “sehat” disebutkan sebanyak tiga kali, kata sakit (maradh) disebutkan sebanyak tigas belas kali, akan tetapi semuanya merujuk pada hati, dan secara istilah diinterpretasikan untuk menunjukan keraguan beragama,bukan untuk penyakit fisik.

Pada abad I H/ VII M, Orang-orang islam mulai mengenali pandangan medis Yunani dan secara bertahap berlanjut kepada pengobatan Hipocrates dan Galen yang mencapai suatu posisi otoritas fisikawan dan teoritikus medis Islam dan mengkolaborasi teori yunani sintesis yang dihasilkan sering disebut dengan pengobatan islam atau pengobatan yunani-islam.

Satu pendekatan alternatif telah diungkapkan didalam suatu pengobatan yang disebut dengan pengobatan nabi (al-tibb al-nabaw), yang dikembangkan oleh para ilmuwan keagamaan dan didasarkan pada al-Qur’an dan sunah nabi.

Pengarang tentang pengobatan nabi menunjukan bahwa prinsip-prinsip medis ditemukan didalam Al-Qur’an dan bahwa pandangan medis yang diungkapkan oleh nabi sama sekali tidak bertentangan dengan teori medis saat ini pengobatan nabi adalah suatu kemajuan dan elaborasi yang akan memberikan pengobatan suatu karakter.

Pada awalnya banyak orang-orang islam tampak tertarik untuk menemukan padangan Nabi tentang penyakit dan cara beliau menyembuhkannya. Pada abad ke III H/IX M juga hadis-hadis yang berkaitan tentang medis, diantaranya terdapat perintah-perintah umum untuk menyembuhkan penyakit, hadis ini merefleksikan pandangan-pandangan medis kontemporer orang-orang Arab.

Hadis-hadis seperti “Al-Qur’an adalah obat terbaik” dan “dirikanlah sholat, termasuk terapi-terapi keagamaan yang baru, dimana Hadis “jangan mengutuk demam,karena demam dapat menghapus dosa,seperti api menghapus kotoran dari besi” mengindikasikan bahwa segala penyakit tidak harus dilihat sebagai suatu penderitaan, melainkan cara untuk menghapuskan dosa.  

Hadis- hadis seperti ini biasanya terususun pada bab yang sama seperti Shahih al-bukhari memiliki satu bab mengenai orang yang terkena penyakit (kitab al marda) dan satu bab mengenai pengobatan (kitab al tibb) sedangkan menurut ibnu majah semua hadis yang berghubungan dengan pengobatan  disusun dalam satu bab yaitu (kitab at tibb).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *